Facebook dan Twitter Tidak Baik untuk Perkembangan Anak

Berbicara maslaah perkembangan anak, kita akan mengacu pada hal-hal yang bersifat kompleks. Bukan hanya sebatas kondisi fisiknya saja yang berubah, namun juga menurut pada kondisi psikis atau psikologi serta emosi mereka sendiri. Dalam hal ini ada beberapa hal yang menunjang dan ada pula yang bisa jadi akan menghambat perkembangan si anak.

Sehubungan dengan kondisi seperti yang ada di jaman seperti. Banyak anak yang sudah dapat berhubungan langsung dengan kemajuan teknologi. Tak jarang ditemukan anak sudah memiliki akun jejaring sosial, dengan nakal sedikit memberi keterangan umur yang lebih tua dari aslinya. Namun tanpa disadari tentunya hal ini akan berdampak pada perkembangan anak itu sendiri.

Faktanya, Facebook ataupun juga Twitter ternyata akan memberikan dampak yang tidak baik pada perkembangan anak. Dalam sebuah penelitian akhirnya terungkap fakta bahwa anak yang sudah mengenal media sosial dalam usia yang masih muda rentan akan bermasalah pada perkembangan otaknya. Hal ini tak lain adalah dikarenakan adanya aktivitas over exposed yang dilakukannya saat menggunakan media sosial tersebut.

Baroness Greenfield yang tak lain adalah seorang professor Farmakologi dari Universitas Oxford yang telah meneliti akan hal ini menyebutkan bahwa kondisi otak anak akan kurang perkembangannya karena memang mereka kekurangan kontak fisik. Dimana hal ini nantinya akan menghambat kemampuannya dalam berinteraksi terhadap sesama serta reaksi emosionalnya.

Greenfield juga menambahkan bahwa sifat banyak orang di media sosial, khususnya anak-anak kebanyakan melakukan narsisme sebagai salah satu patokan sebuah kegiatan yang dapat menimbulkan popularitas dan pengaruh dalam menggunakan jejaring sosial alias media sosial. Tak hanya itu, berbagai komentar yang muncul pun nantinya akan berdampak pada menurunnya konsentrasi anak dalam belajar. Karena perhatian mereka akan selalu tertuju pada akun media sosialnya saja.

Keprihatinan pun muncul dari aktivitas di media sosial. Dimana banyak orang hanya terpaku pada teknologi dalam layar tanpa memiliki perkembangan pada sisi otak mereka. Kemudian juga kegiatan overexposed yang dilakukan di media sosial secara terus menerus akan membuat anak kesulitan dan kehilangan jati diri mereka. Krisis identitas pun akhirnya terjadi karena selalu ingin diperhatikan dan mendapatkannya dari kegiatan selalu mengekspose hal-hal yang sebenarnya tidaklah penting.

Dalam hal ini, mengingat media sosial tidak baik untuk perkembangan anak. Tentuna para orang tua harus melakukan pengawasan yang lebih jauh serta didikan akan aktivitas anak selama bermedia sosial. Namun tanpa harus mengekangnya untuk tidak menggunakan media sosial itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *